Acara Diskusi FLP mencerahkan. exmple

Blog ini masih dalam perbaikan. FLP senantiasa berkomitmen untuk menjadikan organisasi menulis ini menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk Indonesia

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label cerpen juara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen juara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

Cerpen : PATUNG IBU

Oleh Ahmad Ijazi H

Entah sudah kali keberapa Tania melihat patung itu dari dekat. Patung seorang wanita. Diletakkan di sudut ruang tamu. Patung itu belum jadi. Hanya bagian wajahnya saja yang sudah berbentuk, itu pun masih kasar. Sedangkan bagian tubuh yang lain belum berbentuk sama sekali. Sekilas wajah patung itu mirip dengan wajah ibu. Hampir enam tahun patung itu diletakkan di tempat itu tanpa seorang pun berani menyentuhnya.

Tania heran. Patung itu patung terjelek yang pernah dia lihat. Tapi diletakkan di tempat terhormat, ruang tamu. Padahal Tania tahu, di rumah ini ada beberapa patung yang bentuknya jauh lebih bagus dari patung itu. Tapi tak pernah dipajang di ruang tamu.

Patung itu pahatan ayah. Ayah memang mahir memahat sejak SMA. Walau pun akhirnya ayah menjadi anggota TNI Angkatan Laut, dia tetap gemar memahat saat ada kesempatan. Banyak patung-patung hasil pahatan ayah menghiasi rumah ini.Tania terus menatap lurus patung itu. Dia masih ingat. Patung itu ayah buat untuk hadiah ulang tahun ibu, yang ke 33. Waktu itu Tania masih berumur sepuluh tahun. Ayah berjanji akan menyelesaikan patung itu dalam waktu tiga minggu, tepat pada hari ulang tahun ibu. Namun baru seminggu pertama pembuatan patung itu, ayah dan beberapa temannya mendapat tugas dari panglima komandan Angkatan Laut untuk ke luar daerah. Ada gurat kekecewaan saat ibu melepas kepergian ayah.

“Aku tahu kau kecewa,” ucap ayah waktu itu sambil menatap wajah ibu lekat. “Tapi ini sudah menjadi tugasku. Aku berjanji akan kembali secepatnya. Patung itu pasti akan selesai tepat pada hari ulang tahunmu besok.”

“Aku akan selalu setia menanti kau kembali…” lirih terdengar suara ibu.

Ternyata hari itu adalah hari terakhir ibu melihat wajah ayah. Ibu setia dalam penantiannya, namun ayah tak kunjung datang. Sampai hari ulang tahun ibu menjelang, ayah tak juga pulang. Hingga akhirnya ibu mendapat berita duka––kapal yang ditumpangi ayah bersama rombongan tenggelam diterjang badai. Delapan tentara tewas dalam peristiwa naas itu, sementara tiga tentara yang lain dinyatakan hilang, termasuk ayah. Ibu benar-benar terpukul.

Hingga kini ibu tetap berharap ayah kembali. Walau telah enam tahun tak ada kabar berita. Ibu benar-benar wanita yang setia. Walaupun banyak laki-laki yang menghampirinya, pendirian ibu tak pernah goyah. Ibu yakin ayah masih hidup.

Tania belum mengalihkan pandangannya menatap patung itu. Dia masih penasaran, kenapa ibu selalu melarangnya menyentuh patung itu. Kalau Tania tanya, ibu selalu memberi alasan yang membuat kening Tania berkerut tak mengerti.

Tadi ibu dan Bik Narti sedang memasak di dapur menyiapkan makan malam. Tania celingukan, menoleh kiri kanan. Aman. Dengan jantung berdebar-debar, Tania menjulurkan tangannya hendak mengelus wajah patung itu.

“Jangan sentuh patung itu!” perkataan ibu terdengar dingin seperti biasa. Tania heran. Selalu saja ibu mengetahuinya saat dia ingin menyentuh patung itu. Apakah antara ibu dan patung ini memiliki ikatan batin? Hah, apa mungkin patung dan manusia bisa memiliki ikatan batin? Tania berkata dalam hati.

“Tapi… patung ini berdebu, tak pernah dibersihkan,” sahut Tania tersendat.

“Patung itu belum jadi! Tak ada yang boleh menyentuh patung itu sebelum patung itu selesai diukir!”
Tania terdiam.
Ibu melangkah pergi.

*

Setelah makan malam, ibu melangkah menuju halaman depan. Dari teras rumah, Tania melihat ibu yang duduk di kursi taman sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang. Perlahan Tania melangkah menghampiri ibu. Dari dekat, Tania melihat ibu yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Tampak begitu bahagia.

“Semalam Ibu bermimpi bertemu dengan ayah…” ibu berkata tanpa mengalihkan pandangannya menatap bulan purnama.
“Benarkah?” tanya Tania lalu duduk di samping ibu.
Ibu mengangguk, “Ya. Kata ayah, sekarang dia berada di bulan…”
Tania terdiam, menatap wajah ibu dengan sedih.
“Sekarang Ibu merasa sangat bahagia. Ibu benar-benar melihat wajah ayah di bulan itu. Dia sedang tersenyum menatap Ibu…”
Tania tertunduk. Dadanya terasa diiris-iris. Perih. Air matanya ingin tumpah, namun tetap coba dia tahan.
“Tania, kau kenapa?” ibu menoleh menatap wajah Tania.
Tania tetap diam. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga.
“Kau menangis, Sayang?” ibu mengangkat wajah Tania.
“Tania sangat terharu dan bahagia. Sudah lama Tania tak melihat Ibu tersenyum sebahagia ini…”
Ibu segera memeluk Tania. Air matanya bercucuran.
Sementara langit mulai berwarna kelabu. Awan-awan hitam berarak-arak merayapi paras bulan yang memancarkan sinar keemasan. Malam pun berubah kelam saat gerimis perlahan jatuh.

*

Tania terbangun tengah malam, terhenyak di atas tempat tidur dalam posisi duduk. Matanya membulat nanar. Keringat di wajahnya membanjir. Deru napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja dikejar-kejar penjahat. Tania mengucap istighfar. Dia baru saja mimpi buruk.

Dalam mimpinya dia melihat ibu sedang menatap bulan purnama. Beberapa saat kemudian setitik cahaya jatuh dari wajah bulan purnama itu ke pangkuan ibu. Ibu mengelus cahaya itu dengan lembut. Cahaya itu lalu membesar dan berpendaran, menyilaukan mata. Saat cahaya itu perlahan-lahan lenyap, tampaklah seorang laki-laki berdiri di hadapan ibu. Ternyata laki-laki itu adalah ayah.

Mata ibu tak berkedip menatap wajah ayah. Ibu masih tak percaya sosok di hadapannya itu benar-benar ayah. “Hendra…? Kau kah itu, suamiku?”

Ayah tersenyum dan mengangguk, “Ya. Aku Hendra, suamimu…”
Ibu berdiri dari duduknya lalu menghambur memeluk ayah. Di pelukan ayah, ibu tergugu. Penantiannya selama enam tahun ternyata tak sia-sia. Malam ini ibu benar-benar melihat ayah kembali, bahkan telah memelukknya.

“Aku sangat kagum dengan pendirianmu. Kau benar-benar wanita yang sangat setia. Walau banyak laki-laki yang mengharap cintamu, namun kau tak pernah mau memalingkan hatimu dari cintaku. Aku benar-benar bahagia…” Kristal-kristal bening berguguran juga dari kedua sudut mata ayah.

“Kau adalah laki-laki teristimewa yang pernah kumiliki. Sungguh kau tak kan pernah tergantikan dengan laki-laki mana pun…”

Beberapa saat lamanya ibu dan ayah berpelukan, melepaskan kerinduan mendalam dalam suasana penuh haru. Tania yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan pun tak kuasa membendung air matanya.

“Kedatanganku ke mari untuk menjemputmu,” bisik ayah lembut.
Ibu melepaskan pelukan ayah. “Menjemputku?”
“Ya. Aku ingin membawamu ke bulan. Di sana kita pasti bisa merasakan kebahagiaan tanpa seorang pun dapat mengusik kita.”
“Tapi, bagaimana dengan Tania?”
“Tania?”
“Ya, dia anak kita. Kau masih ingat?”
“Tentu saja.”
“Dia harus ikut.”
“Kalau dia ikut, dia bisa mengganggu kebahagiaan kita. Aku ingin kita berdua saja.”
“Kalau begitu, aku tak mau ikut denganmu. Tak mungkin aku tega meninggalkan Tania sendirian.”
“Apakah kau tak mencintaiku lagi?”
“Aku sangat mencintaimu. Tapi…”
“Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau harus turuti apa kataku!”
“Kau egois!”
“Kau harus ikut aku!” ayah mencengkeram kedua lengan ibu.
“Aku tak mau!” ibu berusaha berontak.
“Kau hanya milikku! Tak ada yang boleh merebutmu dariku!” cengkeraman tangan ayah semakin kuat. Matanya tampak berkilat-kilat. Ayah menyeringai buas seperti serigala haus darah. Ibu semakin ketakutan.
“Kau… kau bukan suamiku! Lepaskan aku! Lepaskan!!” ibu meronta-ronta.

“Tidak akan kulepaskan! Tidak akan! Hua ha ha ha…!” tiba-tiba di tubuh ayah tumbuh sepasang sayap burung garuda. Saat ayah mengepakkan sayapnya, tubuh ibu pun ikut terbang ke udara.

Tania mengejar ibu dengan panik. “Lepaskan ibuku! Lepaskaaaan…!” Tania berteriak-teriak. Namun ayah tak menghiraukannya. Setelah itu Tania terjaga dari mimpinya.

Tania menyeka keringat di wajahnya. Cahaya rembulan menerobos masuk melewati jendela kaca yang hordennya tesingkap. Perlahan Tania melangkah menghampiri jendela lalu memandang ke luar. Bulan purnama bersinar terang di langit. Tampak begitu indah. Tiba-tiba Tania teringat ibu. Cepat-cepat dialihkannya pandangannya menatap kursi taman di halaman depan. Tania terperanjat. Ibu masih duduk di sana sambil menikmati indahnya bulan purnama. Bergegas Tania keluar dari rumah menghampiri ibu.

“Bu, malam sudah sangat larut. Sebaiknya Ibu segera istirahat. Besok kan, Ibu harus ke kantor?” Tania berkata lembut.

Ibu menoleh. Menatap wajah Tania lekat, lalu tersenyum. “Tania, saat ini Ibu merasa bahagiaaa sekali! Kau tahu apa yang membuat Ibu bahagia?”

Tania diam menanti jawaban ibu.
“Baru saja ayah turun dari bulan menemui Ibu. Dia berjanji akan datang lagi saat ulang tahun Ibu besok…”

Tania menundukkan wajah. Dadanya teriris-iris. Perih. Tuhan… jangan biarkan ibuku menderita seperti ini. Kasihan ibu. Aku sangat sayang ibu… jerit Tania dalam hati. Tiba-tiba air matanya jatuh lagi.

*

Besok ibu ulang tahun. Ulang tahun yang ke 39. Berbagai perlengkapan telah dipersiapkan sejak dua minggu terakhir. Mulai dari gaun yang harus ibu kenakan, kue ulang tahun, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Tania baru bangun dari tidur siangnya. Dipicingkannya matanya melihat jam di dinding kamarnya. Jam lima sore! Cukup lama juga dia terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktivitas di sekolahnya yang padat.

Tania segera beranjak dari kamarnya menuruni tangga menuju lantai bawah. Di ruang tengah dia mendapati ibu telah mengenakan gaun indah berwarna jingga. Tak berkedip Tania memandang wajah ibu. Tania terkagum-kagum. Ibu cantik sekali! Belum pernah dia melihat ibu berhias secantik ini sebelumnya.

“Tania? Kenapa bengong begitu?” tegur ibu sambil membawa dua buah piring kaca berisi puding jagung berukuran mini. Segera diletakkannya piring-piring itu dengan sangat hati-hati di sebuah meja yang telah dipersiapkan di ruang tengah. Bik Narti turut membantu ibu. Beberapa minuman dan makanan mewah yang lainnya telah tersaji di meja itu. Baunya semerbak membangkitkan selera. Membuat Tania lapar.

“Oh eh… Ibu cantik sekali sore ini,” sahut Tania sekenanya sambil melangkah menghampiri meja. “Wah, banyak sekali makanan mewah di meja ini?” mata Tania berbinar-binar. “Siapa tamu yang akan bertandang? Sepertinya istimewa sekali?”

Ibu tersenyum, memandang wajah Tania lekat-lekat. “Malam ini ayah akan datang menemui Ibu.” Ibu berkata dengan raut wajah berbunga-bunga. Ibu tampak sangat bahagia.

Tania diam. Matanya yang tadi berbinar-binar berubah pias. “Ibu yakin ayah akan datang?” tanya Tania pelan. Hampir tak terdengar.

“Ayah laki-laki setia. Dia selalu menepati janjinya…”
Tania tersenyum samar. Segera dia menjauh sebelum air matanya benar-benar jatuh.

*

Malam telah larut. Tania masih melihat ibu di halaman rumah, duduk di kursi taman sambil menatap wajah bulan yang terang benderang. Udara di luar sangat dingin. Tania melangkah menghampiri ibu.

“Bu, malam telah larut. Udara dingin sekali. Sebaiknya Ibu istirahat saja…” Tania tampak khawatir.

“Sebentar lagi ayah datang. Ibu harus menunggunya…” lirih terdengar suara ibu.
“ Malam sudah sangat larut. Tania khawatir Ibu sakit.”
“Ayahmu laki-laki setia. Dia pasti menepati janjinya.”
“Tapi…”
“Sudahlah! Ibu yakin ayah datang malam ini. Ibu harus menunggunya. Ibu tak ingin membuat ayah kecewa…”

*

Tania terbangun dari tidurnya. Cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melewati lubang ventilasi kamarnya menampar wajah Tania. Silau. Tania menyipitkan matanya. Jarum jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul delapan. Tania heran. Biasanya ibu selalu mengomel kalau dia bangun kesiangan. Apa mungkin karena hari ini hari Minggu? Berkali-kali Tania menguap sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Tania lalu melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah. Dia ingin menemui ibu. Biasanya ibu suka berbenah rumah kalau hari libur seperti ini. Ah, bukannya hari ini ibu ulang tahun?! Ya Tuhan… Tania hampir saja lupa. Tania mempercepat langkah menuruni anak tangga. Dia sudah tak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi ciuman cinta pada ibu.

Di ruang tengah Tania melihat Bik Narti sedang membereskan piring-piring kotor yang berserak di atas meja. Tania mengerutkan alis. Teringat ibu yang menanti kedatangan ayah semalam. Apa mungkin ayah benar-benar menemui ibu semalam?

“Ibu di mana, Bik?” tanya Tania agak khawatir. Semalam ibu menunggu kedatangan ayah hingga larut malam.

“Bibik tidak tahu, Non. Mungkin masih di kamarnya.”
Tania bergegas menuju kamar ibu, tapi ibu tak ada di kamarnya. Tania beranjak menuju dapur, namun ibu juga tak dia temukan di sana. Tania melangkah menuju halaman depan, namun lagi-lagi ibu tak ditemukan juga. Oh, di mana ibu? Tania cemas sekali. Keringat di wajahnya bercucuran.

Dengan perasaan kecewa Tania melangkah menuju ruang tamu. Kedua matanya langsung tertuju ke sudut ruangan, tempat di mana patung ibu berada. Mata Tania membulat seketika. Dilihatnya patung itu kini telah sempurna! Patung itu telah selelai dibuat. Patung itu benar-benar mirip ibu!

Perlahan Tania melangkah menghampiri patung itu. Ditatapnya wajah patung itu lekat-lekat. Patung itu seperti hidup.

“Ayahmu telah menepati janjinya untuk menyelesaikan patung pahatannya tepat di hari ulang tahun ibumu…” bibir patung itu tampak bergerak-gerak.
Tania terpana.

Ahmad Ijazi H, Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru
Pemenang Ke-2 LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)

Sabtu, 06 Juni 2009

CERPEN


Anak Air Asin

(Bambang Kariyawan)
Pemenang Jarapan Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja ROHTO
Tingkat Nasional 2008



Sampan-sampan bergerak perlahan menyusuri tepian laut yang dihiasi rimbunan bakau, lambaian kelapa, dan tiupan cemara laut. Gerakannya perlahan seiring tiupan angin dan arus laut. Sampan-sampan yang mempunyai kajang, itulah istilah untuk menyebut sampan yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Kesehariannya kajang dijadikan rumah untuk bertempat tinggal. Beragam kegiatan manusia dilakukan di atas sampan tersebut mulai dari mandi, masak, tidur, dan kegiatan lainnya. Selama ratusan tahun, Suku Laut benar-benar menjadi ”manusia perahu”, yang hidup di atas perahu. Bagi mereka, laut adalah segala-galanya. Laut adalah ”rumah” yang memberikan naungan sekaligus kemerdekaan hidup.
Di salah satu sudut sungai Pulau Ngenang, Batam yang di tumbuhi hutan bakau dan hamparan pantainya terlihat seorang anak berusia sekitar 13 tahun sedang mengayuh sampan dan sesekali terlihat menebarkan jaringnya. Tebaran jaring sebuah keindahan ketika menyatu dengan hamparan biru laut dan membawa pancaran mata-mata harapan saat ikan-ikan menari-nari untuk memberikan kehidupan bagi yang menangkapnya.
”Atan... tolong carikan air tawar ya nak?” suara seorang emak memanggil anak lelakinya yang mulai beranjak remaja yang sedang memilah-milah ikan-ikan dan hasil laut lainnya.
“Iya mak,” Atan menjawab sambil mencari di hamparan laut kemungkinan ada tanda-tanda yang berbeda dari warna air laut yang lainnya berarti itulah tandanya ada air tawar. Atan dengan sigap mencari air tawar untuk emaknya dan sekaligus membawakan penyu dan teripang sebagai bahan makanan dan sekaligus untuk dijual.
”Hebat sekali anak emak ini, kau memang anak air asin kebanggaan kami, banyak teripang yang didapat, jangan lupa bawa ke darat jual sama tauke Cina tuh, cukuplah uangnya untuk beli beras dan sayuran,” kata emak sambil meminta Atan menuangkan air tawarnya ke dalam ember untuk minum.
”Penyu ini dimasak apa mak?”
”Nanti emak goreng dan buatkan sambal untuk kau tuh.”
Penyu merupakan salah satu hewan "cantik" di dasar laut. Bagi Suku Laut, para nelayan yang hidup nomaden penyu termasuk salah satu hewan laut yang mudah ditangkap. Bukan dijaring, tetapi ditombak. Mata tombak diikatkan pada sebuah tali dan diletakkan di ujung kayu. Setelah mata tombak ditancapkan ke penyu, tali pun ditarik.
***
Masyarakat Suku Laut memang masih dianggap sebagai masyarakat pedalaman bagi penduduk Kepulauan Riau. Peneliti Eropa dan Amerika menyebut mereka Gipsi Laut karena mereka hidup di atas perahu-perahu yang bergerombolan di lautan.
”Pak, mengapa kita tidak tinggal di rumah seperti yang ada di pantai?”
”Orang seperti kita takut melihat atap rumah yang tinggi Atan, kita sudah terbiasa tinggal di kajang yang atapnya pendek,” jelas bapak Atan.
Hari itu tetangga sampan sebelah bapak Atan ada yang akan melahirkan. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila seorang perempuan akan melahirkan maka dibawa ke darat untuk dilanjutkan prosesnya oleh dukun beranak atau kini oleh bidan desa. Pada saat bersamaan ada juga yang akan melangsungkan perkawinan. Semua tetap berlangsung di darat. Ada tradisi unik yang mereka pelihara dengan mensakralkan binatang anjing. Anjing dalam adat perkawinan Suku Laut ditempatkan di tangga masuk rumah mempelai laki-laki. Anjing yang digunakan juga harus anjing yang berbulu hitam.
“Kami sendiri tidak tahu-menahu mengapa harus anjing yang berbulu hitam
yang digunakan dalam adat perkawinan. Tetapi secara turun-temurun, anjing yang berbulu hitamlah yang menentukan sah atau tidaknya sebuah perkawinan,” ujar Tetua Suku Laut kepada Atan suatu ketika.
Pada saat mempelai perempuan menginjakkan kakinya di rumah mempelai laki-laki, sesepuh adat akan memukul anjing tersebut. Jika anjing yang dipukul itu langsung menggonggong, pernikahan dinyatakan sah. Tetapi kalau anjing yang dipukul tidak menggonggong, pernikahan pun tidak terjadi karena dianggap tidak sah.
“Itu pernah terjadi dan pernikahan dibatalkan karena anjing tidak menggonggong waktu dipukul. Itu tidak sah,” lanjut Tetua Suku Laut.
***
Atan sebagai mana anak laut yang lain pun masih sering berinteraksi dengan anak-anak seusia di darat. Kadang bermain bola, memanjat kelapa, menangkap ikan, dan kegiatan anak-anak lain yang menyenangkan untuk usianya. Kebetulan sebuah sekolah dasar terletak di tepi pantai, dan kadang Atan sempat melihat teman-temannya memakai seragam merah putih.
”Mak, boleh Atan sekolah seperti teman-teman Atan?”
”Tanyalah sama Bapak dulu, boleh atau tidak.” Atan berusaha meyakinkan bapaknya agar Atan bisa ikut bersekolah.
”Untuk apa Atan sekolah, anak laut itu yang paling penting bisa menangkap ikan, mencari penyu, mencari teripang. Tak perlu sekolahlah karena hal-hal seperti itu tidak akan ada kau dapat di sekolah.”
”Tapi Atan ingin Pak.”
”Sudahlah jangan mimpi yang macam-macam.”
***
Hari itu Atan kembali ke darat untuk bermain bersama teman-temannya, kali ini mereka bermain bersama Pak Budi, yang biasa mereka panggil dengan sebutan Pak Guru. Selesai bermain Pak Guru mengajak mereka berkumpul. Mereka ada rencana untuk mengelilingi pulau-pulau sekitar dengan menggunakan kapal kaya yang oleh penduduk setempat disebut dengan ”Pong Pong” setelah itu mampir sebentar ke Batam. Atan pun memberanikan diri menemui Pak Guru untuk bergabung dan menyatakan keinginannya untuk ikut dalam acara tersebut.
”Wah, boleh saja Atan akan bisa membantu kami dalam menunjukkan tempat-tempat yang belum temanmu kenal.”
’Tapi saya tidak punya uang banyak Pak.”
”Tidak usah dipikirkan.”
Kebahagiaan begitu dirasakan dalam diri Atan. Sesampainya di sampan, Atan menceritakan pengalamannya kepada bapaknya dan meyakinkan kalau kegiatan tersebut tidak memerlukan uang.
”Ya sudah pergilah, tapi ingat Bapak tidak bisa membawakan apa-apa.”
***
Hari itu dengan segenap hati yang membuncah bahagia, Atan berkumpul bersama teman-teman yang sangat peduli dengan keberadaan orang-orang seperti Atan, apalagi Pak Guru yang ternyata sangat antusias untuk memajukan pendidikan di pulau sekitar tempat Atan tinggal. Serombongan anak-anak kecil yang bahagia menuju ke sebuah pong pong yang diperkirakan dapat memuat penumpang sekitar 20 orang. Hamparan laut yang biru dan hijaunya pulau-pulau kecil, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Kubung, dan Pulau Todak menjadi pemandangan dan perpaduan warna keteduhan. Keasyikan tak tertahankan ketika pong pong kami menelusuri pulau demi pulau Dan sejenak kami singgah di sebuah pulau yang disebut orang Air Raja. Di tepi pantai Atan seperti nalurinya memanggil untuk menanggap kepiting dan ikan-ikan serta kerang yang ada.
”Hebat kamu Tan, lumayan untuk menambah bekal diperjalanan.”
Ketika pong pong berlabuh di pelabuhan Sekupang Batam, serombongan siswa dan Pak Guru memasuki kota Batam yang kata orang surganya pencari kerja. Atan terkagum-kagum melihat kendaraan dan kota yang begitu moderen. Jalan-jalan beraspal, gedung-gedung menjulang, perumahan tersusun rapi dengan beragam tipe, benar-benar sebuah kemajuan.
”Kira-kira apa ya Pak, yang menyebabkan Batam menjadi begitu maju?”
”Karena banyak orang pintar di Batam”
”Biar bisa pintar bagaimana caranya Pak?”
”Atan harus rajin belajar.”
”Belajar ya Pak.”
”Iya, belajar. Salah satunya Atan harus bisa belajar membaca dan menulis. Dan karena Atan pintar melaut, maka pelajari ilmu melaut itu dengan sungguh-sungguh.”
Nasehat tersebut begitu merasuk ke dalam pikiran Atan. Sekembalinya dari Batam, muncul tekad untuk mengubah dirinya.
”Aku harus bisa membaca dan menulis, dan aku ingin belajar ilmu melaut dengan sungguh-sungguh.”
***
Sejak itu, selalu saja ada waktu bagi Atan untuk belajar melaut dari orang-orang tua Suku Laut dan Atan selalu meminta nasehat kepada Pak Guru bagaimana mengembangkan ilmu melautnya. Pak Guru menunjukkan bahkan mengajaknya pergi ke instansi terkait. Dan di sela-sela itu Atan selau menyempatkan untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan dengan tidak malu-malu dengan ilmu yang sedikit tersebut Atan mengajak teman-temannya sesama suku laut untuk mau belajar membaca dan menulis.
”Anak laut itu yang penting bisa melaut, tidak perlu yang namanya sekolah,” salah seorang bapak bicara pada anaknya.
Walau banyak kontroversi dari orang tua teman-temannya namun dengan kesabaran dan ketekunan niat tersebut tetap dijalankannya. Bahkan Atan sering mengajak teman-temannya untuk sedikit demi sedikit mengubah pola melaut yang selama ini dijalankan orang tua mereka yang ternyata tidak mendatangkan keuntungan hanya untuk kebutuhan saja.
”Teman-teman, orang-orang seperti kita punya kelebihan dalam menangkap ikan, mari kita buat lebih baik dalam menangkap ikannya bukan hanya untuk diri kita. Mari kita buat tambak dan kelong untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hasilnya bisa kita buat untuk sekolah. Anak laut harus sekolah,” nasehat Atan pada teman-teman yang mau bergabung dengannya.
***
Namun Atan ternyata dimarahi habis-habisan orang Tetua Suku Laut karena dianggap melanggar adat mereka dan tidak menghargai orang-orang tua mereka Bahkan Atan diminta untuk pergi dari masyarakat tempat mereka tinggal dan boleh kembali setelah tidak melakukan hal-hal yang aneh lagi.
”Bapak Atan, nasehati anak awak tuh, sebelum kami mengusir dengan kasar, kami minta Atan untuk pergi ke pulau seberang saja. Kalau tidak masyarakat Suku Laut akan rusak dengan cara anak awak tuh melaut,” tegas Tetua Suku Laut pada bapak Atan yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan orang yang memang harus mereka patuhi.
”Emak, Atan pergi ke seberang saja,” pinta Atan pada emaknya. Walau dengan rasa berat hati bapak dan emaknya karena Tetua Suku Laut harus dipatuhi maka keputusan Atan ke pulau seberang harus disetujui.
Atan ditampung di rumah Pak Guru. Belajar membaca dan menulis makin giat. Dan keterampilan Atan melaut dikembangkan di pantai tempat tinggal barunya bersama Pak Guru. Masyarakat sangat menghargai usaha Atan mengingat kesibukan mereka bekerja untuk urusan ikan mereka mendapat bantuan dari Atan bahkan tidak sekedar ikan, bermacam makanan hewan laut bisa didapatkannya.
Ketekunannya tidak hanya sampai di situ. Dari hari ke hari disela-sela melaut, Atan menyempatkan diri ke hutan mengumpulkan kayu-kayu. Atan dengan tekunnya membuat kelong baru yang besar sekali ukurannnya, lengkap dengan rumah singgahnya.
***
Perjalanan waktu menempah kedewasaan Atan menapaki hidup. Ada saat-saat bekerja. Ada saat-saat melepas segenap kelelahan. Ada saat-saat Pak Guru menangkap kerinduan di wajah Atan kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya.
”Aku harus berbuat sesuatu,” pikir Pak Guru.
Pak Guru membawa petugas dari Dinas Perikanan untuk melakukan penyuluhan di tempat orang tua Atan. Di sela-sela acara penyuluhan, Pak Guru terlihat berbincang-bincang dengan sebuah keluarga dengan terlihat ekspresi gembira dan keharuan di wajah keluarga tersebut.
Seminggu kemudian,
Di sebuah kelong baru, ”Inilah kelong dan rumah yang dipersembahkan untuk Bapak dan Ibu,” jelas Pak Guru pada kedua orang tua Atan yang memancarkan wajah-wajah haru dan bahagia.
Emak Atan, ”Dimana Atan sekarang Pak Guru?”
”Anak air asin, disini Emak,” keluarlah Atan dari dalam rumah kelong tersebut.
Tanpa mengucapkan banyak kata. Atan pun berhambur memeluk kedua orang tuanya.

Catatan:
Anak air asin: sebutan anak suku laut




























Jumat, 22 Mei 2009

Juara I Lomba cerpen UNILAK


Kemelut Api Dendam

Oleh Ahmad Ijazi H

Mata wanita itu menyala bak kobaran api bergejolak. Hujaman perih kian bertubi-tubi tak kunjung reda mengoyak batinnya. Letupan dendam kian mengamuk, membunuh rasa iba yang berkelebat di pelupuk mata. Wanita itu menyeringai dengan dengus menderu, bak serigala haus darah. Terik mentari yang membakar paras, menganaksungaikan peluh di wajah. Wanita itu tak peduli. Sorot mata tajamnya terus mengekor langkah kaki seorang muslimah yang baru saja keluar dari mobil mewah. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun tertawa riang di sampingnya. Tampak begitu ceria. Melihatnya, hati wanita itu kian tercabik-cabik. Serasa ditikam pisau berkarat, perih tak terperi! Samapai kapan pun dia tak akan pernah rela muslimah itu mengecap bahagia. Muslimah itu telah merenggut suaminya! Membuat hidupnya dan keluarganya menderita!

Dua tahun silam. Belati beracun telah torehkan luka menganga di jantungnya. Luka itu tak kunjung sembuh, bahkan kian parah! Dia takkan pernah terlupa. Saat suaminya menceraikannya. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya sendiri.

Wanita itu memang pekerja keras, menjadi pembantu rumah tangga harian. Pergi pagi pulang malam. Beban keluarga yang ditanggungnya teramat berat. Dia harus menghidupi dua anak gadisnya: Rahma dan Laila yang bersekolah di SMP dan SMA, juga bundanya yang sering sakit-sakitan. Sementara suaminya pengangguran dan suka berjudi. Terkadang suaminya itu pergi tak tentu tujuan, lalu pulang dalam keadaan teler. Dua anak gadinya sering menjadi pelampiasan amarahnya. Tamparan dan pukulan sering mendarat di wajah kedua anaknya itu. Sementara pemilik kedai di seberang rumahnya sering bertandang kepadanya menagih hutang suaminya yang menggunung.

Wanita itu terpaksa bekerja lebih keras untuk mendapat upah lebih. Dia bekerja dari pagi, hingga pulang pagi pula. Suaminya berang karena dia tak pernah di rumah. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya! Dia dicerai paksa oleh suaminya, lalu diusir dari rumah. Begitu pun ibunya yang sering sakit-sakitan, diusir pula oleh suaminya dengan keji karena dianggap menyusahkan. Wanita itu mengontrak rumah. Di sana dia terus berjuang keras menghidupi keluarga, terutama untuk memenuhi biaya sekolah dua anak gadisnya. Sebenarnya dua anak gadisnya itu berkeinginan untuk tinggal bersama wanita itu, namun suaminya melarangnya.

Hati wanita itu kian terkoyak-koyak perih saat mendengar suaminya menikah lagi dengan seorang janda kaya-raya beranak satu. Dan luka di jantungnya kian menganga lebar saat dia mengetahui dua anak gadisnya telah dijual oleh suaminya kepada seorang pengusaha kaya untuk dijadikan wanita penghibur di sebuah klab malam. Seribu tikaman belati beracun seakan telah membuat hidupnya sekarat, namun dia tak bisa mati. Dia terus hidup dalam kubang derita yang teramat menyakitkan!

Sebulan kemudian, wanita itu mendapat kabar bahwa anak sulungnya, Laila, ditemukan tewas gantung diri di sebuah kamar hotel! Laila depresi, mengalami goncangan jiwa. Siang malam dia harus melayani nafsu bejat puluhan lelaki hidung belang. Dia tak kuat. Derita yang ditanggungnya teramat berat. Sampai akhirnya dia ditemukan tewas di dalam sebuah kamar hotel dengan seutas tali mejerat leher!

Bagai dirajam sejuta sembilu, wanita itu tak kuasa menanggung derita yang semakin bertubi-tubi. Dia tak kuat rasanya terus melangkah dalam kemelut badai yang kian dahsyat menerpa hidupnya. Apalagi saat dia kemudian harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya bahwa Rahma, satu-satunya anak yang menjadi harapan hidupnya itu, harus pula meregang nyawa, tewas dengan keadaan yang sangat mengenaskan di tiang gantuangan, dengan seutas tali menjerat leher!

Wanita itu sesengukkan. Air matanya kian deras berjatuhan. Letupan dendam kian menyala, berkobar menjilat-jilat di relung hatinya. Sorot mata wanita itu kian tajam memaku sosok muslimah yang tengah duduk di bangku taman. Binar mata muslimah yang teduh itu memperlihatkan betapa bahagianya dia mendekap sang buah hati dengan penuh rasa cinta.

Rahang wanita itu kian bergemeletak. Dia mendengus dengan amarah berapi-api. “Sampai mati pun aku tak kan pernah rela melihatnya hidup bahagia, sementara hidupku terpasung dalam derita berkepanjangan. Aku harus membuatnya sengsara! Dialah yang telah merenggut suamiku! Dialah yang telah membuat hidupku dan keluargaku terperosok dalam jurang penderitaan! Sampai saat ini tak secuil pun bahagia yang singgah di dasar hatiku. Dia harus merasakan siksa dan derita yang aku rasakan! Dia tak boleh hidup bahagia!”

Mata wanita itu semakin berkilat-kilat. Sesak jantungnya oleh gemuruh dendam yang kian bergejolak. Dengan sigap diraihnya sebuah belati dari balik pakaiannya. Dia harus melampiaskan dendamnya itu! Dia harus membunuh muslimah itu! Muslimah itu harus mati! Luka di hatinya harus terbalas! Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Kalau tidak, dia akan menyesal seumur hidup. Kepuasannya adalah melihat muslimah itu mati!

Wanita itu melangkah perlahan. Tak ada rasa ragu di benaknya. Dia melangkah kian dekat menghampiri muslimah dan anaknya itu yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Muslimah itu tak menyadari kedatangannya. Dia sepertinya tampak khusuk menimang manja sang buah hati di pangkuannya.

“Sayang… Bunda merasa begitu bahagia memiliki putri sepertimu. Hati Bunda akan selalu terasa damai bila mendekap dirimu, Sayang. Rasa resah dan gundah yang menyesak di dada pun lenyap. Sungguh, Bunda sangat mencintaimu, Sayang…” Muslimah itu berbisik di telinga sang buah hati dengan suaranya yang terdengar sendu.

“Tak ada cinta dan kasih sayang yang bergitu tulus yang pernah aku rasakan selain cinta dan kasih sayang Bunda terhadapku. Ingin rasanya aku selalu dalam dekapan Bunda. Semakin erat Bunda mendekapku, semakin terasa tenang hati ini…” jawab gadis kecil itu dengan perkataannya yang begitu cerdas dan menyentuh kalbu.

Wanita itu terperangah. Terhenyak dalam kebimbangan. Miris hatinya, serasa ditikam berjuta resah. Hatinya terenyuh sesaat. Namun gejolak dendam di dadanya kian menderu-deru. Belati di tangannya bergetar hebat. Amarah yang meletup-letup menggiring langkahnya makin mendekati muslimah itu. Sang muslimah benar-benar tak menyadari kalau wanita itu telah berada di belakangnya. Sekali hentakan, belati di tangan wanita itu telah menembus tubuh sang muslimah. Saat tubuh muslimah itu roboh ke tanah, wanita itu tak memberi ampun! Seperti kerasukan iblis, wanita itu terus menghujamkan belati di tangannya berkali-kali.

Manita itu bergegas pergi. Seringai buasnya rekah, mencuatkan letupan kepuasan hatinya yang sangat, karena telah berhasil membunuh muslimah itu. Dia tak hirau lagi saat gadis kecil yang mendekap tubuh kaku bundanya itu, menangis dan menjerit pilu dengan lengkingan panjang yang menyayat membelah langit.

***

Belati itu telah menghujam dalam di jantung laki-laki itu. Darah segar menyembur deras mengotori dasi dan jas hitam yang dia kenakan. Ada lengkingan yang menyayat saat laki-laki itu meregang nyawa. Mulutnya menganga dengan mata membelalak. Tubuh laki-laki itu benar-benar telah kaku, tergeletak di muka pintu rumahnya.

Wanita itu teramat puasnya. Dendamnya telah terbalaskan. Laki-laki itulah yang telah menceraikannya. Laki-laki yang membuat hidupnya sekarat, berkubang dengan perihnya penderitaan. Laki-laki yang telah menyengsarakan kedua anaknya hingga harus tewas menghantarkan nyawa di tali gantungan. Tapi laki-laki itu kini telah mati. Mati terbunuh oleh tikaman belati, di tangannya! Wanita itu menyeringai puas. Matanya kian berkilat-kilat buas.

Dentuman petir datang menderu, membaur dengan kucuran gerimis yang jatuh berguguran. Wanita itu melangkah pergi dalam hujan. Sebelum dia melewati pintu pagar rumah mewah itu, terdengar olehnya derit pintu yang terkuak, lalu jeritan menyayat seorang gadis kecil yang mendekap tubuh sang ayah yang telah tak bernyawa itu.

Wanita itu segera melangkah pulang. Telah berbulan-bulan dia berkelayap tak tentu arah. Dia tak tahu bagaimana keadaan ibunya saat ini. Seingatnya ibunya itu dalam keadaan sakit keras saat dia tinggalkan dulu. Dia benar-benar tega meninggalkan sang bunda yang menderita dalam ketidakberdayaannya seorang diri, hanya untuk membalaskan dendam kesumatnya.

Nanar mata wanita itu terpaku di depan pintu rumah kontrakannya itu. Tangannya gemetar saat mengetuk daun pintu yang tampak rapuh. Beberapa saat dia menanti dalam keresahan yang berkemelut. Langkah-langkah kaki yang tertatih kemudian terdengar perlahan menghampiri pintu.

Krittt… daun pintu terkuak. Wanita itu menatap penuh takjub sosok ringkih di hadapannya. Sosok itu menatapnya dengan pias sumringah.

“Rukhayah? Kaukah itu anakku?” tanya wanita tua itu dengan mata berbinar.

“Bunda… maafkan aku telah meninggalkan Bunda sendirian…” Rukhayah langsung memeluk sang bunda. Air matanya deras tak terbendung. Dia sesengukkan. “Mulai saat ini, aku berjanji tak akan meninggalkan Bunda lagi…”

Keheningan malam mulai merayap. Ruangan rumah berdinding papan itu hanya berpenerang lampu minyak. Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah. Ada banyak hal yang belum dia ketahui di rumah ini semenjak dia pergi. Saat ini Bundanya tampak sehat dan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya tampak bercahaya. Sungguh jauh perbedaannya saat terakhir kali dia tinggalkan beberapa bulan lalu.

“Beberapa waktu lalu, seorang wanita berhati malaikat menemukan Bunda dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi jalan raya. Wanita itu lalu membawa Bunda ke rumah sakit. Saat pertama kali tersadar, Bunda menemukan seraut wajah yang teduh dan bercahaya. Bunda merasakan ketenangan yang luarbiasa saat jemari halusnya meraih tangan Bunda. Matanya yang berbinar dan bibirnya yang senantiasa selalu tersenyum, membuat hati Bunda terasa sejuk dan damai. Bunda benar-benar merasa sangat dekat dengan wanita itu, seperti ada ikatan batin yang begitu kuat. Dia menyayangi Bunda seperti orangtuanya sendiri. Naluri Bunda saat itu langsung berkata bahwa dia adalah Melati, anak kandung Bunda yang pernah diminta oleh majikan tempat Bunda bekerja 30 tahun silam karena majikan Bunda itu tak mempunyai keturunan…”

Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah.

Bunda lalu menarik napas dalam-dalam. “Untuk memastikannya, Bunda pun meminta dia untuk menyingkap kerudung yang dia kenakan. Bunda ingat betul, sejak dilahirkan, Melati memiliki tanda hitam berbentuk bulan sabit di lehernya…”

“Lalu… apakah Bunda melihat tanda hitam itu?” tanya Rukhayah dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.

“Ya… Bunda benar-benar melihatnya! Dia benar-benar Melati, anak kandung Bunda…” tangis Bunda pun pecah. Rukhayah langsung memeluk tubuh ringkih sang Bunda. “Setelah Bunda sehat dan dibolehkan pulang kembali, Melati meminta Bunda untuk tinggal bersamanya saja. Tapi Bunda menolak, karena Bunda masih ingin menantikan kau kembali ke rumah ini…”

Lama mereka tenggelam dalam keharuan yang begitu dalam. Bunda lalu melangkah menuju lemari tua mengambil selembar foto dan secarik kertas bertuliskan alamat. “Ini dia foto dan alamat Melati yang sekarang…”

Rukhayah meraih foto dan kertas alamat itu dengan perasaan gundah. Dipandanginya wanita berjilbab dalam foto itu dengan seksama. Seketika tenggorokannya tersedak, dan matanya membelalak. Di foto itu dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal! Ya, dia benar-benar sangat mengenali wanita berjilbab itu. Dialah wanita yang telah merenggut suaminya! Dialah wanita yang telah membuat hidupnya menderita dan dihantui oleh dendam yang bergejolak.

Pembunuhan seorang muslimah di sebuah taman empat bulan yang lalu kembali berkelebat dalam ingatan Rukhayah. Dialah wanita yang telah membunuh muslimah itu. Dan saat ini, dia melihat seraut wajah muslimah yang telah dibunuhnya itu di dalam foto yang ada ditangannya ini. Oh, Tuhan… aku telah membunuh muslimah itu? Membunuh saudara kandungku sendiri? Rukhayah terhenyak dengan dada teriris-iris.

“Oh… Bunda sudah tak sabar ingin bertemu dengan Melati kembali. Semoga dia juga merasakan kerinduan yang sama, seperti kerinduan yang Bunda rasakan saat ini…” mata Bunda tampak semakin berbinar-binar.

Tubuh Rukayah semakin bergetar hebat. Tiba-tiba dadanya begitu sesak! Sesak oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Hatinya terkoyak-koyak perih. Dan kemelut badai yang teramat dahsyat seakan telah memporak-porandakan lantai tempat kakinya berpijak. Dengan tangan yang semakin gemetaran, segera diraihnya sebilah belati dari balik pakaiannya. Sekali hentakan, tikaman belati itu telah menghujam jantungnya! Dan teriakan Bunda yang histeris tak kuasa lagi didengarnya saat tubuhnya yang tersungkur, bersimbah oleh darah yang kian menyembur deras...

***



Juara II Lomba cerpen UNILAK


Janji Senja

OLEH: DESI SOMALIA



Senja. Merupakan sebuah nama yang tak pernah aku tahu wajahnya. Ia adalah lelaki yang selalu diceritakan Ibu. Kata Ibu lelaki itu adalah Ayahku. Berpuluh-puluh macam cerita tentang kebaikan Ayah ke luar dari mulut Ibu. Cerita yang selalu menjadi pengantar tidurku.

“Ayahmu adalah lelaki pemberani,” kata Ibu pada suatu malam.

Aku mendengarkan kisah tentang keberanian Ayah dengan takjub.

Saat masih kanak-kanak, dalam benakku Ayah hadir sebagai sosok kesatria, jagoan, seperti di film-film yang sering kutonton yang rata-rata berkisah tentang sosok pahlawan. Aku selalu berharap Ayah datang setiap aku berulang tahun sambil membawa kue tart sembari mengecup keningku. Namun, sampai aku beranjak dewasa Ayah tak pernah datang. Kemudian harapan itu perlahan-lahan hilang.

Saat aku melepaskan seragam merah putihku aku meminta pada Ibu agar tak lagi bercerita tentang Ayah ketika aku akan tidur.

“Kenapa?” tanya Ibu.

“Karena Ayah tak pernah datang,” kataku sambil memandang langit-langit kamar.

“Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”

“Sudah tak berbilang jumlah senja yang kita lalui, namun Ayah tak kunjung datang.”

“Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang menepati janjinya.”

“Kenapa ayah menjanjikan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang?” aku terus mencecar Ibu.

“Karena senja bukan akhir, ia permulaan sebuah hari.”

Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu.



Pada senja yang sepoi aku kembali mendapati Ibu duduk di teras rumah dengan sejuta harap yang terpancar dari sorot matanya. Aku memandang Ibu dari jauh. Kuurungkan niat duduk di sampingnya. Namun, saat akan masuk ke dalam rumah Ibu memanggilku.

“Duduklah di sini,” Ibu melambaikan tangan padaku.

Aku berbalik. Mendekati Ibu. Kutarik kursi di samping Ibu.

Hening sesaat. Sesekali telingaku menangkap hembusan nafas Ibu.

“Tidak rindukah kau pada Ayah?” tanya Ibu tiba-tiba.

“Rindu. Tapi dulu. Sekarang tidak lagi.”

Ibu memandang tajam padaku, “Kenapa?”

Tak ada jawaban lidah. Aku membuang pandang dari tatapan ibu. “Karena aku tak lagi menganggap Senja sebagai Ayahku, bagiku dia hanya lelaki yang hanya menitipkan sperma pada Ibu,” sahutku, tapi hanya kuucapkan dalam hati.

“Kau tak yakin Ayahmu akan datang?” Ibu mengejarku.

“Maaf Ibu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita,” kataku takut-takut. Ada yang menggeliat di ulu hatiku. Entah apa namanya.

Mata Ibu melotot. “Kau tak akan bicara begitu saat kau dapati Ayahmu datang kala senja,” suara Ibu parau.

Aku menatap bola mata Ibu. Pandangan kami bertemu, sorot mata perempuan itu sekarang basah.

“Aku tak bermaksud menyakiti perasaan Ibu,” kataku.

Ibu tak menolehku. “Tinggalkan Ibu sendiri,” pintanya sembari mengusap mata basahnya.

Dengan langkah berat kutinggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah.



***



Berbilang tahun sudah lewat. Aku sudah tak lagi tinggal bersama Ibu. Aku menetap di kota lain bekerja pada sebuah perusahaan. Ibu menolak ketika kuajak tinggal bersamaku.

“Ibu ingin menunggu Ayahmu di rumah ini setiap senja,” tolak Ibu ketika untuk kesekin kalinya aku membujuk ibu tinggal serumah denganku.

“Dimanapun itu kita akan menikmati senja yang sama,” sahutku.

Ibu menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyum. Tapi mulutnya tak mengeluarkan suara.

“Ibu bisa menikmati senja bersamaku,” bujukku tanpa putus asa.

“Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu di sini. Di rumah ini,” keras hati Ibu.

Akhirnya aku berangkat sendiri setelah tak berhasil membujuk Ibu. Sekali enam bulan aku pulang kampung menjenguk Ibu. Ibu masih seperti dulu. Menanti kehadiran Ayah saat senja. Kasihan Ibu. Penantian yang tak tahu ujungnya. Ibu perempuan setia. Masih menunggu Ayah meski tak ada kabar. Aku pernah menganjurkan agar Ibu mencari pengganti Ayah. Ibu marah besar kala itu. Ibu langsung berdiri di depanku, dan dengan suara yang keras menembus gendang telingaku Ibu membentak.

“Pakai otak!” katanya dengan suara meninggi.

Aku memandang Ibu tidak percaya.

Ibu melangkah, melewatiku, masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sehari semalam Ibu tidak keluar kamar. Aku menunggu Ibu keluar dengan perasaan takut-takut.

Dalam menunggu itu aku melihat Ibu berdiri di depan pintu dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Kudekati Ibu.

“Ibu, maafkan aku,” kataku sembari memeluk tubuhnya.

Aku merasakan perlahan-lahan tangan Ibu melingkar di badanku. Ibu mengeratkan dekapannya. Kemudian tangan kanannya mengangkat wajahku.

“Ayah terlalu bersih. Ibu tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain,” ucapnya.

Mendengar perkataan Ibu kristal bening mengalir di pipiku.

“Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayah untuk Ibu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja,” pintanya.

Aku mengangguk. Sejak itu aku tak pernah lagi menyinggung tentang kehadiran lelaki lain untuk Ibu.



***

Setelah berbilang bulan tak pulang hari ini aku pulang menjenguk Ibu, sekaligus berniat meminta restu.

“Ibu, sekarang aku tak remaja lagi,” aku membuka pembicaraan.

“Lalu?” potong Ibu.

“Aku ingin menikah,” aku sengaja menggantungkan kalimat berharap Ibu menanggapi.

“Sudah ada calon?” tanya Ibu datar.

“Ya. Kami sudah lama saling kenal,” kataku hati-hati.

Ibu tak menyahut.

“Mohon restu dari Ibu,” lanjutku.

Diam yang dominan.

Aku memainkan ujung jilbabku.

“Tapi kau juga harus minta restu pada Senja, Ayahmu,” Ibu berkata tiba-tiba.

Aku melongo dengan ekspresi tak paham.

“Tinggallah beberapa waktu di sini. Ayahmu pasti datang,” yakin Ibu.

Aku mengikuti saran Ibu. Namun, berminggu-minggu senja itu lewat. Dan Ayah tak pernah datang menenuhi janjinya.

Masa cutiku sudah usai. Aku kembali ke kota tanpa mengantongi restu Ibu tentang pernikahanku. Saat akan meninggalkan rumah aku melihat Ibu masih menunggu Senja.***